Pagi itu, aku sedang mengangkuti kardus-kardus yang ada di kontrakanku yang baru. Ya, kontrakan kecil dua kamar, yang kusewa beberapa hari yang lalu, untuk tempat berteduh di kota ini. Bau dari kardus selalu mengingatkanku dengan hal yang bersifat nostalgik, seperti membuka lembaran masa lalu.
"aaah, banyak banget barang lo pok!" gerutu Ajis, teman satu sekolahku dulu, yang notabene beruntung dapat diterima di universitas favorit di kota ini. "Udah kayak punya istrti aja, barang lo banyak beneeer" timpalnya lagi. Sambil senyum, aku menjawab "Ya setidakya punya calon istri, daripada elo nganggur mulu". Dia pun melengos ke dapur sambil nyengir kuda, gak tahu harus menjawab apa.
Sambil tersenyum, aku bergumam "beruntungnya gue punya temen kaya gitu"
Kardus-kardus itu bukan tanpa sebab harus berada di kontrakanku yang baru ini. Jauh-jauh dikirim via pos, dari kampung halamanku di Bukittinggi, Sumatera Barat, sampai ke kota ini. Kardus-kardus memang memiliki daya filosofi yang tinggi buatku. Hidup selalu berubah, berpindah, tak tentu arah. Mengadopsi sifat "kekardusan" inilah hal yang benar-benar membuatku berhasil sebagai mahasiswa baru.
"aaaah, gue inget nih kaos lu! yang dulu kita beli bareng pas cabut dari assalaam cuma buat nonton konser rock in solo kan?" sela Ajis tiba-tiba, sambil memegang gelas berisi air putih.
Ah iya, dia benar. Bahkan kardus bisa menyebarkan efek nostalgia pada yang lain. Ajis dan aku adalah teman sekamar, dulu saat pertama kali menginjakkan kaki di salah satu pondok ternama di daerah pabelan, Sukoharjo. Sempat terlintas dalam pikiran, bahwa orang tua sudah tidak sayang lagi padaku, dan akhirnya aku "dibuang" ke pondok pesantren.
Dan aku tidak sendirian dengan pemikiran itu. Banyak diantara santri baru merengek, bahkan menangis ditinggal orang tua saat hari pertama masuk ke dunia pesantren. Tak terkecuali teman satu kontrakanku ini, Ajis namanya.
Di malam saat orang tuaku akan pulang, Umi sempat berkata "bukannya enyak udah enggak sayang lagi poo, tapi ini untuk kebaikan dipo. Biar berubah, taat agamanya." Kata-kata inilah yang terus terngiang di telingaku selama enam tahun menimba ilmu di pesantren.
Banyak cobaan yang kuhadapi saat hidup sebagai santri, mulai dari bangun solat tahajud, dipaksa bangun sebelum adzan subuh, sampai makan, mandi pun ada antreannya. Tapi semua hal itu tidak kujalani sendiri. Ada ribuan santri bernasib sama sepertiku, dan Ajis, adalah teman untuk berbagi segala di kehidupan pondok.
Benar ramalan Umi enam tahun lalu tentang perubahan, tentang bagaimana menjalani kehidupan ini yang statis, selalu berubah. Setelah merasakan pahit manis hidup di pesantren, ini merupakan modal besar yang aku dapatkan.
Sambil tersenyum, kusikut temanku ini sambil berkata "ah, kan elo yang ngajakin, udah kepengen banget liat naviculla, band yang dari bali ntu kan? haha..."
"iya dah, terseraaah..."
Sambil kututup kardus, aku berterima kasih pada kardus yang telah mengajariku arti dari perubahan.
"aaah, banyak banget barang lo pok!" gerutu Ajis, teman satu sekolahku dulu, yang notabene beruntung dapat diterima di universitas favorit di kota ini. "Udah kayak punya istrti aja, barang lo banyak beneeer" timpalnya lagi. Sambil senyum, aku menjawab "Ya setidakya punya calon istri, daripada elo nganggur mulu". Dia pun melengos ke dapur sambil nyengir kuda, gak tahu harus menjawab apa.
Sambil tersenyum, aku bergumam "beruntungnya gue punya temen kaya gitu"
~
Kardus-kardus itu bukan tanpa sebab harus berada di kontrakanku yang baru ini. Jauh-jauh dikirim via pos, dari kampung halamanku di Bukittinggi, Sumatera Barat, sampai ke kota ini. Kardus-kardus memang memiliki daya filosofi yang tinggi buatku. Hidup selalu berubah, berpindah, tak tentu arah. Mengadopsi sifat "kekardusan" inilah hal yang benar-benar membuatku berhasil sebagai mahasiswa baru.
"aaaah, gue inget nih kaos lu! yang dulu kita beli bareng pas cabut dari assalaam cuma buat nonton konser rock in solo kan?" sela Ajis tiba-tiba, sambil memegang gelas berisi air putih.
Ah iya, dia benar. Bahkan kardus bisa menyebarkan efek nostalgia pada yang lain. Ajis dan aku adalah teman sekamar, dulu saat pertama kali menginjakkan kaki di salah satu pondok ternama di daerah pabelan, Sukoharjo. Sempat terlintas dalam pikiran, bahwa orang tua sudah tidak sayang lagi padaku, dan akhirnya aku "dibuang" ke pondok pesantren.
Dan aku tidak sendirian dengan pemikiran itu. Banyak diantara santri baru merengek, bahkan menangis ditinggal orang tua saat hari pertama masuk ke dunia pesantren. Tak terkecuali teman satu kontrakanku ini, Ajis namanya.
Di malam saat orang tuaku akan pulang, Umi sempat berkata "bukannya enyak udah enggak sayang lagi poo, tapi ini untuk kebaikan dipo. Biar berubah, taat agamanya." Kata-kata inilah yang terus terngiang di telingaku selama enam tahun menimba ilmu di pesantren.
Banyak cobaan yang kuhadapi saat hidup sebagai santri, mulai dari bangun solat tahajud, dipaksa bangun sebelum adzan subuh, sampai makan, mandi pun ada antreannya. Tapi semua hal itu tidak kujalani sendiri. Ada ribuan santri bernasib sama sepertiku, dan Ajis, adalah teman untuk berbagi segala di kehidupan pondok.
Benar ramalan Umi enam tahun lalu tentang perubahan, tentang bagaimana menjalani kehidupan ini yang statis, selalu berubah. Setelah merasakan pahit manis hidup di pesantren, ini merupakan modal besar yang aku dapatkan.
~
Sambil tersenyum, kusikut temanku ini sambil berkata "ah, kan elo yang ngajakin, udah kepengen banget liat naviculla, band yang dari bali ntu kan? haha..."
"iya dah, terseraaah..."
Sambil kututup kardus, aku berterima kasih pada kardus yang telah mengajariku arti dari perubahan.


